Kelompok-Kelompok Sosial

     Manusia pada umumnya dilahirkan seorang diri, namun demikian mengapa harus hidup bermasyarakat? Seperti diketahui manusia pertama Adam telah dilahirkan untuk hidup bersama dengan manusia lain yaitu istrinya yang bernama Hawa. Memang apabila manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya seperti hewan, dia tak akan dapat hidup sendiri. Seekor anak ayam, walaupun tanpa induk, mampu mencari makan sendiri; demikian pula dengan hean lainnya. Manusia tanpa manusia lainya pasti akan mati. Bayi misalnya, harus di ajar maka, berjalan, bermain-main dan lain sebagainya; jadi sejak lahir, manusia berhubungan dengan manusia lainnya. Lagi pula, manusia tidak dikaruniai Tuhan dengan alat-alat fisik yang cukup untuk dapat hidup sendiri.

   Dalam menghadapi alam sekeliling, manusia harus hidup berkawan dengan manusia-manusia lain dan pergaulan tadi mendatangkan kepuasan bagi jiwanya. Apabila manusia hidup sendirian, misalnya dalam keadaan terkurung dalam sebuah ruangan yang tertutup sehingga dia tidak dapat mendengar suara orang lain atau tidak dapat melihat orang lain, maka akan terjadi gangguan perkembangan dalam jiwanya. Naluri manusia untuk hidup dengan orang lain disebut gregariousness dank arena itu manusia juga disebut social animal (=hewan social); hewan yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama.

    Di dalam hubungan antara manusia dengan manusia lain, yang agaknya paling penting adalah reaksi yang timbul sebagai akibat hubungan-hubungan tadi. Reaksi tersebutlah yang  menyebabkan tindakan seseorang menjadi tambah luas. Di dalam memberikan reaksi tersebut ada suatu kecenderungan manusia untuk memeberikan keserasian dengan tindakan-tindakan orang lain. Mengapa? Oleh karena sejak dilahirkan, manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok yaitu:

  1. keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya (yaitu masyarakat).
  2. keinginan untuk menjadi satu dengan suasanan alam sekelilingnya.

   Untuk dapat menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kedua lingkungan tersebut diatas, manusia menggunakan pikiran, perasaan dann kehendaknya. Di dalam menghadapi alam sekelilingnya seperti udara yang dingin, alam yang kejam dan lain sebagainya, manusia menciptakan rumah, pakaian, dan lain-lain. Kesemuanya itu menimbulkan kelompok-kelompok social atau social group di dalam kehidupan manusia ini. Kelompok-kelompok social tersebut merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama. Hubungan tersebut antara lain menyangkut kaitan timbale-balik yang saling pengaruh-mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untk saling tolong-menolong. Akan tetapi timbul suatu pertanyaan, apakah setiap himpungan manuisa dapat dinamakan kelompok social? Untuk itu diperlukan beberapa persyaratan tertentu antara lain :

  1. setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
  2. ada hubungan timbal-balik antara anggota yang satu dengan yang anggota yang lainnya.
  3. ada suatu factor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat.
  4. berstruktur, berkaidah dan mempuntai pola perilaku.
  5. bersistem dan berproses.

PENDEKATAN SOSIOLOGIS TERHADAP KELOMPOK-KELOMPOK SOSIAL

   Seorang sosiolog, di dalam menelaah masyarakat manusia akan banyak berhubungan dengan kelompok-kelompok social, baik yang kecil seperti misalnya kelompok keluarga, ataupun kelompok-kelompok besar seperti masyarakat desa, masyarakatkota, bangsa dan lain. Sebagai sosiolog, dia sekaligus merupakan anggota salah satu kelompok social ilmiawan peneliti akan kian sadar bahwa sebagian besar dari keperibadiannya terbentuk oleh kehidupan berkelompok dan dia hanya merupakan unsure yang mempunyai kedudukan dan peranan yang kecil.

     Suatu kelompok social cenderung untuk tidak menjadi kelompok yang statis, akan tetapi selalu berembang serta mengalami perubahan-perubahan yang di alaminya, atau bahkan sebaliknya akan mempersempit ruang lingkupnya.

    Manusia merupakan mahkluk yang bersegi jasmaniah (raga) dan rohaniah (jiwa). Segi rohaniah manusia terdiri dari pikiran dan perasaan. Apabila di serasikan akan menghasilkan kehendak yang kemudian menjadi sikap tindak. Sikap tindak itulah yang kemudian menjadi landasan greak segi jasmaniah manusia. Manusia mempunyai naluri untuk senantiasa berhubungan dengan sesamanya. Hubungan yang sinambung tersebut menghasilkan pola pergaulan yang dinamakan pola interaksi social. Pergaulan tersebut menghasilkan pandangan-pandangan mengenai kebaikan dan keburukan.

TIPE-TIPE KELOMPOK SOSIAL

1.   Kasifikasi Kelompok Sosial

Tipe-tipe kelompok social dapat diklasifikasikan dari beberapa; sudut atau atas dasar pelbagai criteria ukuran. Seoran sosiolog jerman, Georg Simmel mengambil ukuran besar-kecilnya jumlah anggota kelompok, bagaimana individu mempengaruhi kelompoknya serta interaksi social dalam kelompok tersebut. Dalam analisanya mengenai kelompok-kelompok social, Georg Simmel mulai dari bentuk terkecil yang terdiri dari satu orang sebagai focus hubungan social yang dinamakan monand. Kemudian monand dikembangkan dengan meneliti kelompk-kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang yang disebut dyad serta triyad dan kelompok-kelompok kecil lainnya.

Ukuran lainya adalah kepentingan dan wilayah. Suatu komuniti (masyarakat setempat) misalnya, merupakan kelompok-kelompok atau kesatuan-kesatuan atas dasar wilayah yang tidak mempunyai kepentingan-kepentingan yang khusus/tertentu. Asosiasi (Association) sebagai suatu perbandingan, justru dibentuk untuk memenuhi kepentingan tertentu. Sudah tentu anggota komuniti maupun asosiasi sedikitnya sadar akan adanya kepentingan-kepentingan bersama walaupun tidak dikhususkan secara terinci, ataupun dijabarkan lebih lanjut.

Adakalanya dasar untuk membedakan kelompok-kelompok social adalah factor-faktor sebagai berikut:

    1. kesadaran akan jenis yang sama,
    2. adanya hubungan social,
    3. orientasi pada tujuan yang sudah ditentukan.

Dengan demikian, tipe-tipe umum kelompok social adalah sebagai berikut :

    1. Kategori Statistik, pengelompokan atas dasar cirri tertentu yang sama, seperti kelompok umur.
    2. Kategori Sosial, merupakan kelompok individu yang sadar akan cirri-ciri yang dimiliki bersama, umpamanya, Ikatan Dokter Indonesia.
    3. Kelompok Sosial, seperti misalnya, keluarga batih.
    4. Kelompok tidak teratur, yakni berkumpulnya orang-orang di suatu tempat pada waktu yang sama, karena pusat perhatian yang sama. Contohnya: orang-orang antri karcis kereta api.
    5. Organisasi Formal, setiap kelompok yang sengaja untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, dan telah ditentukan terlebih dahulu. Contohnya: birokrasi.

2.  Kelompok Sosial Dipandang dari Sudut Individu.

Seorang warga mayarakat yang masih bersahaja susunannya, secara relative menjadi anggota pula dari kelompok-kelompok kecil lain secara terbatas. Kelompok social termaksud biasanya adalah atas dasar kekerabatan, usia, seks dan kadang-kadang atas dasar perbedaan kerjaan atau kedudukan. Keanggotaan masing-masing kelompok social tadi, memberikan kedudukan atau prestise tertentu sesuai dengan adapt-istiadat dan lembaga kemasyarakatan di dalam masyarakat. Namun yang penting adalah bahwa keanggotaan pada kelompok social (termaksud, pada masyarakat-masyarakat yang masih sederhana) tidak selalu bersifat sukarela.

3.  In-group dan Out-group

Dalam proses sosialosasi (socialization), orang mendapatkan pengetahuan antara “kami”-nya dengan “mereka”-nya. Dan kepentingan suatu kelompok social serta sikap-sikap yang mendukungnya terwuju dalam perbedaan. Kelompok-kelompok social tersebut yang dibutat oleh individu. Kelompok social dengan nama individu mengidentifikasikan dirinya, merupakan ingroupnya. Jelas, bahwa suatu kelompok  social merupakan “in-group” atau tidak, bersifat relative dan tergantung pada situasi-situasi social yang tertentu. Out-group diartikan oleh individu sebagai kelompok yang menjadi lawan in-group-nya. Ia sering dikaitkan dengan istilah-istilah “kami atau kita” dan “mereka”, seperti “kita warga RT. 001” sedangkan “mereka warga RT. 002”, “kami mahasiswa Fakultas Hukum” sedangkan “mereka mahasiswa Fakultas Ekonomi”. Sikap-sikap in-group pada umumnya didasarkan  pada factor simpati dan selalu mempunyai perasaan dekat dengan anggota-anggota kelompok.

Sikap out-group selalu ditandai dengan suatu kelainan yang berwujud antagonisme atau antipati. Perasaan in-group dan out-group atau perasaan dalam serta luar kelompok dapat merupakan dasar suatu sikap yang dinamakan etnosentrisme.

4.  Kelompok Primer (primery group) dan Kelompok sekunder (secondary group)

Di dalam klasifikasi kelompok-kelompok social, perbedaan yang luas dan fundamental adalah pembedaan antara kelompok-kelompok kecil dimana hubungan antra anggotan-anggotannya rapat sekali di suatu pihak, dengan kelompok-kelompok yang lebih besar di pihak lain. Sejalan dengan perbedaan tersebut, Charles Horton Cooley mengemukakan perbedaan antara kelompok primer denga kelompok sekunder yang ditulis dalam social organization pada 1909. kelompok primer dan sekunder mungkin dapat diterjemahkan dengan istilah “kelompok primer” dan “kelompok sekunder”. Menurrut Cooley, kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang ditandai cirri-ciri kenal-mengenal antara anggota-anggotanya serta kerja sama erat yang bersifat pribadi. Sebagai salah satu hasil hubungan yang erat dan bersifat pribadi tadi adalah peleburan individu-individu ke dalam kelompok-kelompok, sehingga tujuan individu menjadi tujuan kelompok.

Cooley tidak mengemukakan secara khusus yang dimaksud dengan kelompok sekunder dan bahkan belum pernah mempergunakan istilah tersebut, akan tetapi istilah tersebut biasa dipergunakan untuk mengambarkan apa yang menjadi buah piker Cooley. Hanya dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang dikatakan Cooley untuk kelompok primer bila dikatakan sebaliknya. Kelompok sekunder adalah kelompok-kelompok besar yang terdiri daribanyak orang. Bagaimana hubungannya tidak perlu berdasarkan kenal-mengenal secra pribadi, dan sifatnya juga tidak begitu langgeng.

Dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat dan sifat-sifat kelompok primer dan kelompok sekunder saling isi-mengisi dan dalam kenyataan tak dapat dipisah-pisahkan secara mutlak.

5.  Paguyuban (Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft)

Asal mula buah pikir Charles Horton Cooley tentang kelompok primer sebagaimana diuraikan terlebih dahulu, dapat dikembalikan pada buah pikiran yang jauh sebelumnya telah dikemukakan oleh Ferdinand Tonnies tentang paguyuban (Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft). Hubungan-hubunganpositif antara manusia selalu bersifat Gemenschaftlich atau Gesellschaftlich.

Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan bating yang memang telah dikodratkan. Kehidupan tersebut dinamakan juga bersifat nyata dan organis. Sebagaimana dapat diumpamakan dengan organ tubuh manusia atau hewan. Bentuk paguyuban terutama akan dapat dijumpai di dalam keluarga, kelompok kekerabatan, rukun tetangga dan sebagainya.

Sebaliknya, patembayan merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pebdek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. Bentuk Gesellschaft terutama terdapat di dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal-balik, misalnya ikatan antar pedagang, organisasi dalam suatu pabrik atau industri dan lain sebagainya.

6.  Formal Group dan Informal Group

Apabila beberapa kelompok saling berhubungan, maka terjadi perkembangan organisasi social, walaupun tidak semua kolektiva menjadi organisasi formal. Kriteria rumusan organisasi formal atau formal group merupakan keberadaaan tata cara untuk memobilisasikan dan mengkoordinasikan usaha-usaha, yang mencapai tujuan berdasarkan bagian-bagian orgamisasi yang bersifat spesialis. Apabila hubungan antar anggota-anggota formal group (disebut organisasi) dan semua kegiatan didaarkan pada aturan-aturan yang sebelumnya sudah ditentukan, maka tidak semua masalah dapat ditanggulangi. Proses interaksi sosial dan kegiatan-kegiatan dalam organisasi tidak mungkin semua ditegakkan.

Maka formal group adalah kelompok-kelompok yang mempunyai peraturan-peraturan yang tegas dan dengan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antara anggota-anggotanya. Sedangkan informal group tidak mempunyai struktur dan organisasi tertentu atau pasti. Kelompok-kelompok tersebut biasanya terbentuk karena pertemuan-pertemuan yang berulang kali dan itu menjadi dasar bagi bertemunya kepentingan-kepentingan dan pengalaman yang sama.

 7.  Membership group dan Reference Group

Pembedaan antara membership group dengan reference group berasal dari Robert K. Merton. Membership group merupakan kelompok dimana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Batas-batsa apa yang dipakai untuk menentukan keanggotaan seorang pada suatu kelompok secara fisik, tidak dapat dilakukan secara mutlak. Hal ini disebabkan karena perubahan-perubahan keadaan. Situasi yang tidak tetap akan mempengaruhi derajat interaksi di dalam kelompok tadi, sehingga adakalanya seorang anggota tidak begitu sering berkumpul dengan kelompok tersebut.

Reference group adalah kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang (bukan anggota kelompok) untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Dengan perkataan lain, seorang yang bukan anggota kelompok sosial bersangkutan mengidentifikasi dirinya dengan kelompok tadi. Misalnya, seorang yang ingin sekali menjadi mahasiswa, tetapi gagal untuk memenuhi persyaratan memasuki salahsatu perguruan tinggi, bertingkah laku sebagai mahasiswa, walaupun dia bukan mahasiswa.

KELOMPOK SOSIAL YANG TIDAK TERATUR

  1. Kerumunan (crowd)

Sangat sukar untuk menerima suatu pendapat yang mengatakan bahwa sekumpulan manusia, semata-mata merupakan koleksi dari manusia-manusia secara fisik belaka. Setiap kenyataan adanya manusia berkumpul, sampai batas-batas tertentu juga menunjukan pada adanya suatu ikatan sosial tertentu. Walaupun mereka saling berjumpa dan berada di satu tempat secara kebetulan, misalnya di stasiun kereta api, namun kesadaran akan adanya orang lain telah membuktikan bahwa ada semacam ikatan sosial. Kesadaran tersebut menimbulkanpeluang-peluang untuk dapat ikut merasakan perasaan orang lain yang berada pada tempat yang sama. Suatu kelompok manusia tidak hanya tergantung pada adanya interaksi belaka, tetapi juga karena adanya pusat perhatian yang sama.

2.  Publik

Berbeda dengan kerumunan, publik lebih merupakan kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui alat-alat komunikasi seperti misalnya pembicaraan pribadi yang berantai, desas-desus, surat kabar, radio, televisi, film dan lain sebagainya. Alat-alat penghubung semacam ini lebih memungkinkan suatu publik mempunyai pengikut-pengikut yang lebih luas dan lebih besar. Akan tetapi karena jumlahnya yang sangat besar, maka tidak ada pusat perhatian yang tajam dan karena itu kesatuan juga tidak ada.

About aldyreliandi

aku aldy leriandi , kamu siapa ??
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s